
JAKARTA, Tabaosmaluku.com – Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, mengungkapkan fakta mencengangkan terkait masalah kesehatan anak di Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki BPOM, sekitar 80 persen anak di Indonesia mengalami masalah gizi, yang meliputi stunting, kekurangan mikronutrien, hingga obesitas.
“Dari data yang kami miliki, sekitar 80 persen anak yang kami teliti mengalami masalah kesehatan,” kata Taruna Ikrar, yang dikutip pada Minggu (2/3/2025).
Ia merinci lebih lanjut bahwa 21,6 persen anak mengalami stunting, 40 persen menderita kekurangan mikronutrien, seperti anemia akibat defisiensi zat besi (ferrum), dan 20 persen lainnya mengalami obesitas atau kelebihan gizi.
“Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi dengan angka kelahiran anak di Indonesia yang mencapai 4,8 juta per tahun. Jika tidak segera ditangani, dampaknya bisa sangat serius bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Untuk mengatasi masalah gizi ini, BPOM mendorong industri pangan untuk berperan aktif bersama pemerintah dalam memastikan ketersediaan pangan sehat dan bergizi. Taruna menegaskan bahwa BPOM akan mengoptimalkan pengawasan terhadap produksi, izin edar, dan distribusi pangan agar sesuai dengan standar kesehatan.
“Kami ingin memastikan bahwa industri pangan berkontribusi dalam menyediakan makanan sehat bagi anak-anak. Jika hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), tentu akan sulit,” ujar Taruna.
BPOM juga mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menjadi prioritas Presiden Prabowo Subianto. Menurut Taruna, program ini bisa diperkuat melalui partisipasi industri pangan dan masyarakat secara gotong royong.
“Kami ingin mempromosikan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pangan agar ikut berkontribusi dalam program makan bergizi gratis. Dengan demikian, MBG bisa berjalan bukan hanya sementara, tetapi berkelanjutan,” lanjutnya.
Taruna berharap bahwa dukungan dari berbagai pihak akan memastikan bahwa program makan bergizi gratis, ini dapat berlangsung dalam jangka panjang dan bahkan menjadi gerakan nasional.
“Jika program ini bisa menjadi bagian dari gerakan masyarakat, bukan tidak mungkin MBG akan menjadi program selamanya,” tutupnya.
Dengan kolaborasi antara pemerintah, industri pangan, dan masyarakat, diharapkan masalah gizi pada anak-anak Indonesia bisa segera ditanggulangi, demi menciptakan generasi yang lebih sehat dan kuat.(**)




